Bacalah

Learning is forever

RSS Feed

Going where this year?

Pelajaran yang Bisa Dipetik di 4 Tahun Pertama Terjun di Bursa Saham

0 Comments

Bulan Januari ini, terhitung 4 tahun sudah saya terjun di Bursa Efek Indonesia sejak bulan Januari 2016. Niat pertama adalah, sama seperti mungkin nyaris semua investor saham di dunia, untuk menggapai kebebasan finansial. Karena saya tahu, penghasilan saya di pekerjaan saya yang sekarang ini, tidak cukup banyak untuk bisa langsung membeli rumah, atau bikin usaha, atau beli tanah. Untuk memutar tabungan saya yang cuma sedikit itu tadi, perlu sebuah instrumen atau alat yang lebih fleksibel. Pilihan saya jatuh ke saham. Beberapa orang-orang terkaya di dunia, memperoleh kekayaannya dari saham, yang paling terkenal tentu saja Warren Buffett. Mungkin saja saya bisa sedikit mengikuti jejak-jejak mereka di pasar saham.

Saya mulai dengan membaca primbon-primbon dasar pasar saham yang pasti direkomendasikan oleh nyaris semua investor di dunia, yaitu buku Intelligent Investor dan Security Analysis yang keduanya adalah karya Benjamin Graham. Kedua buku tersebut sudah teruji dan diakui oleh Warren Buffett sendiri, ya tentu saja karena Warren Buffett adalah mahasiswanya Benjamin Graham waktu beliau kuliah puluhan tahun yang lalu. Inti dari prinsip investasi yang dilakukan oleh Warren Buffett dan Benjamin Graham adalah mencari saham bagus, tetapi dengan valuasi rendah. Prinsip ini dikenal dengan nama value investing.

Parameter fundamental yang biasa digunakan dalam value Investing antara lain :

  1. Price/Earning (P/E) ratio, yaitu perbandingan antara harga saham dan pendapatan perusahaan tersebut.
  2. Price Book Value (PBV), yaitu perbandingan antara harga saham dengan nilai buku perusahaan tersebut.
  3. Return on Equity (ROE), yaitu perbandingan pengembalian penghasilan atas modal yang ditanamkan pada perusahaan tersebut.
  4. Debt to Equity Ratio (DER), yaitu perbandingan antara hutang dengan ekuitas perusahaan tersebut.

Prinsip investasi ini menenekankan bahwa kita hanya boleh berinvestasi pada perusahaan yang proses bisnisnya sederhana dan gampang untuk dimengerti. Dengan berbekal prinsip tersebut dikombinasikan dengan matematika sederhana untuk menghitung parameter fundamental, dan mencari info mengenai bisnis-bisnis perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia, saya memilih untuk membeli 5 saham yang berbeda, dengan modal yang tentu saja sangat cekak.

Sepanjang 2016, portofolio saya tumbuh 27%, sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tumbuh 15.3%. Lumayan karena diantara 5 saham tersebut, saya mendapatkan multibagger, yaitu saham yang tumbuhnya bisa sampai beberapa kali lipat. Multibagger saya di 2016 adalah PTBA, saham dari BUMN tambang batubara PT Bukit Asam. Saya memilih PTBA karena saya tahu, batubara dari Bukit Asam banyak dipakai oleh pembangkit-pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) di Indonesia, selain untuk diekspor. Dan pada saat itu sedang gencar-gencarnya pembangunan PLTU di Indonesia. Saya membeli PTBA dengan harga Rp 4.338 per lembar sahamnya. Di akhir 2016, harganya naik jadi Rp 12.500, atau naik nyaris 3 kali lipat. Tapi sayang, saham PTBA saya ini hanya 1/5 bagian dari seluruh portofolio saya. Saham saya yang lain cuma tumbuh sedikit, ada juga yang jeblok.

Di tahun 2017, saya mulai penasaran untuk memperoleh multibagger lain, dan karena saya makin sibuk dengan pekerjaan saya, saya pun mencari jalan pintas. Yaitu membeli rekomendasi saham dari investor lain yang sudah terkenal di Indonesia. Saya pun membeli beberapa saham rekomendasi tersebut. Ada satu yang sempat jadi multibagger, yaitu KBLI, saham dari PT KMI Wire and Cable. Ya memang ada sedikit insider info, karena saya tahu kabel dari KBLI banyak dipakai di seluruh penjuru Indonesia oleh perusahaan tempat saya bekerja. Saya membeli KBLI seharga Rp 280.5 per lembar pada Februari 2017. Dan ternyata hanya dua bulan kemudian naik menjadi Rp 865. Tapi sayang, saya terlalu percaya pada pasar modal yang akan menghargai KBLI lebih dari itu. Ternyata satu bulan kemudian KBLI mulai turun sampai lebih dari setengahnya.

Dan saham-saham lain yang saya beli berdasarkan rekomendasi tersebut, ternyata tidak ada yang bisa bagger, beberapa malah jongkok saja di tempat. Alhasil di tahun kedua ini saya dikalahkan telak oleh IHSG. IHSG naik 19.2%, eh portofolio saya turun, ya cuma sedikit sih -0.53%.

Tahun 2018, saya sudah tidak pakai lagi rekomendasi-rekomendasi berbayar. Saya screening sendiri semua emiten atau saham yang akan saya beli. Saya dapat bagger lagi di tahun 2018. Yaitu ERAA, saham dari importir dan distributor handphone dan gadget di Indonesia PT Erajaya Swasembada (swasembada kok impor, hehehe). Saya beli ERAA di harga Rp 1102, tidak sampai empat bulan setelahnya, naik jadi Rp 3400. Nah sayangnya sama juga dengan KBLI, walaupun kali ini hasil analisis sendiri, ERAA juga jatuh lagi beberapa bulan kemudian. Di tahun 2018, portofolio saya akhirnya naik 12.09%, tapi IHSG justru malah turun -2.54%. Mungkin hikmah karena beli saham hasil analisis sendiri, bukan ikut-ikutan orang.

Setelah saya pelajari lagi, saham yang bisa naik dan kemudian turun lagi kayak roller coaster gini, ternyata sedang ‘digoreng’ atau dipermainkan harganya oleh bandar, atau investor yang mempunyai dana sangat besar yang bisa mempengaruhi naik atau turunnya harga sebuah saham seenak hatinya sendiri dengan cara pump and dump atau beli di harga rendah. Kemudian beli lagi beli lagi sambil dinaikkan sedikit demi sedikit harga belinya supaya banyak orang lain yang juga ikut beli. Nah kemudian setelah dia dapat harga yang oke, dia jual lagi perlahan-lahan semua sahamnya di emiten tersebut. Sampai tercapai titik harga tertinggi, orang-orang lain pada sadar sudah tidak ada lagi yang jualan atau beli, sahamnya sepi lagi dan orang-orang akan keluar dari saham tersebut, dan akhirnya harganya pun jatuh kembali ke harga semula atau bahkan lebih rendah.

Akhirnya tahun 2019, saya mulai sedikit merubah strategi dengan pelan-pelan masuk di emiten saham blue chip dengan market capitalization atau total nilai saham yang besar. Saham dengan market cap yang besar memang lambat naiknya, tidak seperti saham dengan market cap kecil seperti ERAA yang cuma Rp 5,4 trilyun, atau KBLI yang cuma Rp 2 trilyun yang bisa naik banyak dalam hitungan bulan, tetapi relatif lebih resisten terhadap permainan bandar. Saat ini saya punya 26 saham (iya memang kebanyakan), memang sebagian besar dengan market cap kecil. Dan karena terlalu value investing, saya jadi lupa jualnya, karena menurut saya parameter fundamentalnya masih oke. Dan terus terang karena saya terlambat profit taking, ya contohnya di PTBA, KBLI, dan ERAA tadi, jadinya sayang mau dijual sekarang, nanti saja kalau dikerek bandar lagi. Hehehe. Di 2019, portofolio saya naik lebih tinggi dibanding IHSG, punya saya 7.49%, IHSG cuma naik sedikit 1.7%.

Tetapi untungnya selama ini, saya tidak pernah beli terlalu mahal dan jual terlalu murah atau cut loss. Beberapa kali momen IHSG drop saya manfaatkan untuk beli saham market cap besar (yang turun juga ikut IHSG). Sehingga walaupun ada beberapa yang minus, tapi overall portofolio saya tumbuh dalam 4 tahun ini. Dan overall, sudah bisa dikatakan (sedikit) beat the market.

Mungkin ada beberapa pelajaran yang bisa dipetik selama 4 tahun ini :

  1. Jangan terlalu banyak punya saham. Untuk pemula maksimal 5 atau 10 saham saja. Kalau mau tambah saham lain, jual dulu saham yang dipunyai yang parameter fundamentalnya sudah keluar kriteria.
  2. Jangan terlambat jual (untuk saham market cap kecil). Bandar-bandar saham di Indonesia sangat kejam dan haus darah. Dalam hitungan bulan suatu emiten bisa naik berkali-kali lipat, namun juga bisa langsung terjun hanya dalam hitungan minggu.
  3. Gunakan keuntungan dari trading di saham market cap kecil untuk nabung saham blue chip yang market capnya besar dan relatif naik terus walaupun lambat naiknya.
  4. Rekomendasi dari investor senior atau orang lain belum tentu lebih jitu dari hasil screening atau analisis sendiri, apalagi rekomendasi-rekomendasi berbayar. Kebanyakan investor yang jualan rekomendasi saham, sebagian besar penghasilannya ya diperoleh dari jualan rekomendasinya itu, bukan dari capital gain saham yang dia investasikan. Ya mungkin mirip-mirip MLM. Atau mirip management fee-nya hedge fund-hedge fund besar di Amerika serikat.

Sawit Indonesia

0 Comments

Budidaya kelapa sawit adalah salah satu penggerak ekonomi utama di Indonesia. Lebih dari 15 juta rakyat Indonesia menggantungkan mata pencahariaannya pada industri minyak sawit, baik sebagai petani dengan lahan kecil, maupun sebagai pekerja pada perusahaan sawit besar. Indonesia mulai menjadi produsen minyak sawit terbesar di dunia sejak tahun 2006, mengungguli Malaysia. Indonesia memproduksi 35 juta ton minyak sawit per tahun, lebih dari 50% seluruh suplai minyak sawit dunia. Ekspor sawit menghasilkan 6 milyar Dollar Amerika, 11% dari keseluruhan neraca ekspor Indonesia. Karena menanam sawit, anak bisa sekolah, bisa membangun rumah, naik haji, dan lain-lain. Ustad Abdul Somad pernah berkata, dulu beliau mendapatkan warisan 2 hektar kebun sawit dari kakeknya sebagai bekal untuk kegiatan dakwahnya di Riau.

Namun kejayaan sawit Indonesia harus dibayar dengan harga yang sangat mahal. Demi menyaingi posisi Malaysia sebagai produsen minyak sawit terbesar, jutaan hektar hutan hujan tropis dan rawa-rawa di Sumatra dan Kalimantan ditebang dan dibakar untuk menciptakan lahan baru bagi penanaman pohon sawit. Dampak dari penebangan dan pembakaran hutan tersebut sangat mengerikan. Sejak 1991, setiap tahunnya kabut asap mengepung kehidupan masyarakat di Sumatra dan Kalimantan, dan sampai ke Singapura dan Thailand. Di tahun 2015, kabut asap dari Sumatra dan Kalimantan bahkan juga mencapai Brunei, Vietnam, Kamboja, dan Filipina. Kabut asap ini mengakibatkan sakit infeksi saluran pernafasan yang sangat akut (ISPA). Saya sendiri pernah merasakan kabut asap waktu bekerja di Riau, dan memang sangat tidak nyaman sekali hidup dengan kabut asap di sekitar kita. Beberapa kali terjadi bayi dan balita yang meninggal di Sumatra dan Kalimantan karena kena ISPA yang disebabkan kabut asap, kebetulan salah satu korbannya adalah anak dari senior saya di perusahaan.

Belum lama beredar foto orangutan di Aceh yang luka parah karena ditembak dengan senapan angin, kemudian dipukuli sampai babak belur, kemudian ditusuk berkali-kali oleh petani sawit yang lahannya didatangi oleh si orangutan untuk mencari makan, karena hutan yang seharusnya menjadi habitatnya telah musnah dan berganti menjadi lahan sawit. Orangutan tadi berhasil bertahan hidup setelah diselamatkan dari kemarahan para petani. Setelah di rontgen, di dalam tubuh orangutan tadi ada 74 butir peluru timah yang bersarang. Si orangutan mempunyai bayi, yang sayangnya tidak lolos dari kemarahan petani sawit, dan akhirnya mati. Kejadian pembantaian keluarga orangutan ini baru yang viral dan kita ketahui, belum yang selama ini lolos dari pemberitaan media. Belum lagi hewan-hewan liar penghuni hutan yang lain. Dan belum lagi tumbuhan-tumbuhan langka yang terancam punah.

Karena dampak-dampak negatif dari budidaya sawit yang diterapkan di negara kita, Uni Eropa melakukan embargo terhadap minyak sawit produksi Indonesia mulai dari tahun ini. Mereka hanya mau memakai minyak nabati yang diproduksi secara ramah lingkungan dan berkelanjutan, yang tetap memperhatikan kelestarian alam dan kesejahteraan hewan-hewan liar, termasuk orangutan yang menjadi musuh besar para petani sawit Indonesia. Akibatnya, harga minyak sawit Indonesia jatuh. Ini sangat menyakitkan bagi petani sawit kecil, yang terkena akibat paling parah dari embargo ini. Apalagi petani kecil yang sudah sering dicurangi pengepul dan tengkulak, dihantam lagi dengan turunnya harga sawit, makin kecil lagi margin keuntungan mereka. Kalau kita melihat dari kacamata Pak Petani, mungkin wajar bagi Pak Petani untuk melampiaskan kemarahannya atas hidup yang tidak adil ini kepada si orangutan yang malang yang hanya berusaha mencari makan untuk anaknya.

Menjadi dilema bagi kita semua, menyikapi budidaya sawit di negeri kita. Terakhir komentar dari Bapak Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Indonesia yang membela petani sawit, “Petani sawit pahlawan bangsa”, kemudian “Kalian mikirin orang utan saja”. Tentu saja sindiran dari Pak Menko tersebut tidak akan mengubah kebijakan pemerintah negara-negara Eropa. Beberapa netizen berteori, bahwa embargo Uni Eropa tersebut hanya merupakan strategi perang dagang, karena minyak nabati produksi dalam negeri mereka seperti minyak canola dan minyak biji bunga matahari tidak bisa bersaing secara harga dari minyak sawit.

Sebenarnya, ada tidak cara supaya budidaya sawit tidak merusak dan bisa berkelanjutan? Saya bukan ahli pertanian dan perkebunan, tapi kita bisa melihat negara tetangga yang dulu kita singkirkan dari tahta raja sawit, Malaysia. Alih-alih berusaha merebut kembali posisi produsen minyak sawit terbanyak, saat ini Malaysia fokus meningkatkan kualitas minyak sawit yang diproduksinya. Kalau Indonesia menguasai 50% seluruh suplai minyak sawit dunia, maka Malaysia menguasai 50% suplai minyak sawit yang tersertifikasi diproduksi dari kebun yang ramah lingkungan. Sejak tahun 2010, pemerintah Malaysia telah berkomitmen untuk menjaga minimal 50% wilayahnya tetap sebagai hutan hujan tropis (dan bukan sebagai hutan produksi). Pemerintah Malaysia mendorong peningkatan produksi sawit bukan dengan cara membuka lahan baru, tetapi dengan cara mengoptimalkan lahan sawit yang sudah ada. Memang, budidaya sawit di Malaysia pun tidak sempurna dan tidak luput dari metode-metode ilegal, tapi paling tidak beberapa metodenya yang legal bisa dicontoh.

Budidaya tanaman monokultur yang sifatnya tahunan untuk komoditi ekspor memang rentan sekali. Tidak hanya sawit, tetapi juga karet yang beberapa dekade terakhir harganya tidak naik-naik, padahal bukan karena embargo tapi karena pasarnya direbut oleh karet sintetis dan karet daur ulang. Perlu ada diversifikasi pertanian, supaya seluruh lahan tidak ditanami sawit semua, atau ditanami karet semua. Beberapa hari yang lalu Presiden bilang, petani sawit bisa beralih ke tanaman pangan lain, seperti durian atau jengkol misalnya. Tapi juga jangan semuanya menanam durian. Sehingga ketika harga turun, mau karena embargo, karena kondisi pasar atau perkembangan teknologi, petani tetap bisa bertahan dan beralih ke tanaman lain lagi. Public figure seperti Ustad Abdul Somad juga bisa mencontohkan kepada masyarakat Riau, untuk mencoba mengganti beberapa pohon sawitnya dengan menanam kurma, saya yakin beliau sudah melihat betapa indahnya kebun-kebun kurma di Mesir ketika beliau kuliah dulu.

Kembali ke sawit, di Indonesia sebenarnya sawit sangat potensial sebagai batu loncatan untuk menuju kemandirian energi. Yaitu dengan mengolah sawit menjadi biofuel, biodiesel atau biobensin. Minyak sawit Indonesia yang diekspor ke negara-negara Eropa pun diolah menjadi biofuel. Di debat calon presiden Februari lalu, kedua capres menyadari potensi biofuel. Walaupun sayangnya kedua capres juga tetap berencana untuk memperluas lahan. Sawit, karena bisa ditanam lagi, bisa termasuk ke dalam sumber energi terbarukan. Beberapa waktu yang lalu biodiesel pernah muncul di beberapa SPBU, namun entah kenapa tidak lama kemudian menghilang. Di beberapa PLTD di luar Jawa, biodiesel sawit juga sempat dipakai. Memang perlu riset lebih lanjut untuk membuat minyak sawit supaya lebih sesuai sebagai bahan bakar mesin. Dan perlu diketahui, meskipun terbarukan, sawit adalah sumber energi yang susah kalau dibilang berkelanjutan, karena untuk menggerakkan mesin atau kendaraan, masih melibatkan proses pembakaran, yang nantinya akan menghasilkan asap dan gas buang yang tetap membuat polusi. Maka dari itu saya bilang sawit sebagai batu loncatan, bukan tujuan akhir kemandirian energi Indonesia.

Well, sawit, dan tanaman apapun di muka bumi ini, pasti ada gunanya untuk umat manusia. Tapi supaya menguntungkan semua pihak, dan tidak merugikan siapapun, baik orang manusia atau orangutan, penanaman dan pemanfaatannya harus bertanggung jawab. Dalam hal ini, pemerintah harus menghentikan perluasan lahan sawit di hutan, dan harus lebih aktif lagi melakukan pengawasan terhadap perkebunan sawit baik kebun skala kecil dan terutama kebun perusahaan-perusahaan besar. Pembimbingan kepada petani supaya bisa meningkatkan mutu dan jumlah produksi dari lahan yang sudah ada juga harus lebih digalakkan. Kemudian petani kecil bisa difasilitasi untuk mendapatkan sertifikat kebun sawit ramah lingkungan. Petani sawit juga harus sadar, bahwa lingkungan harus dijaga, apa salahnya memberikan sedekah satu tandan dua tandan sawit kepada keluarga orangutan yang lapar. Kalau penebangan dan pembakaran hutan berhenti, maka orangutan tidak akan bingung kemana dia harus lari untuk mencari makan. Apa mau, negara kita dikenal sebagai negara pembunuh orangutan?

Salah Sasaran Pinjaman Lunak

1 Comment

Sejak pertama kali buka rekening bank setelah lulus kuliah, sering sekali saya dapat telpon dari penawaran dari bank yang macam-macam. Mulai dari tabungan berjangka, asuransi, kartu kredit, sampai pinjaman tanpa agunan. Yang terakhir ini belakangan bisa dibilang sangat sering sekali, dan cuma bukan dari satu bank. Berhubung planning saya belum matang sekali untuk buka usaha, ya akhirnya setiap penawaran pinjaman itu saya tolak. Dan walaupun saya sudah bilang belum mau ambil, tetap saja beberapa hari berikutnya dari bank yang sama ada lagi telemarketing yang telpon. Dan berbagai macam bujuk rayu yang disampaikan oleh mbak telemarketer, mulai dari siapa tahu mau beli atau bangun rumah, siapa tahu saudara atau keluarga ada yang butuh, siapa tahu untuk biaya nikah, siapa tahu nanti untuk dana pertama kredit kendaraan, dan lain-lain. Nominal yang ditawarkan pun pelan-pelan dinaikkan begitu saya bilang belum mau, pun bunganya dipilihkan di opsi yang paling rendah.

Terlepas dari dasar hukum agama tentang pinjam meminjam uang dengan bunga, maupun etika telemarketing dalam menghubungi nasabah, menurut saya kebijakan monetary quantitative easing di Indonesia masih sangat kurang tepat sasaran. Adalah benar tujuan dari pemerintah melalui Bank Indonesia untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dengan cara memudahkan peminjaman uang bagi masyarakat. Namun proporsi ‘random middle class citizen’ sebagai sasaran quantitative easing tersebut terlalu besar. Sehingga semua bank pun melakukan metode telemarketing untuk menyalurkan dana segar yang mereka punya. Dan bank pun secara random juga hanya cari gampang menyasar nasabah dengan pemasukan bulanan rutin diatas jumlah tertentu untuk menghindari kredit macet. Bank-bank yang ada di Indonesia berlomba-lomba untuk menarik nasabah kredit dari segmen tersebut sebanyak-banyaknya. Dan telemarketer sebagai front line diberikan target tertentu mungkin dengan bonus tertentu pula apabila target tercapai. Karena memang sudah bekerja, ‘random middle class citizen’ tersebut hanya membelanjakan uang hasil pinjaman tersebut untuk kegiatan konsumtif, bukannya untuk kegiatan produktif memulai usaha seperti yang dibilang sama mbak telemarketer.

Namun ditakutkan akan terjadi konsumerisme gila-gilaan, yang hanya menguntungkan perusahaan-perusahaan besar dan raksasa, dan yang lebih mengerikan lagi, ini hanya akan meningkatkan inflasi ke tingkat yang tidak terkendali di semua bidang. Padahal semua provinsi di Indonesia masih banyak masyarakat yang masih kesusahan untuk mendapatkan modal untuk memulai usaha. Belum lagi pedagang kecil, sangat kecil, dan sangat kecil (baca: simbah-simbah yang berjualan makanan, kerajinan, yang berjualan hanya untuk bertahan hidup) sekali yang belakangan ini akhirnya terekspos di masyarakat luas karena sosial media. Sayang sekali sebagian besar dari segmen usaha ini juga tidak memenuhi persyaratan untuk menerima Kredit Usaha Rakyat yang sudah dijalankan pemerintah. Sehingga akhirnya rakyat Indonesia yang berada di level ‘low and very low income class’ ini banyak yang jatuh ke tangan rentenir dan lintah darat, yang menawarkan kemudahan peminjaman uang secara instan, namun dengan bunga yang sangat tidak manusiawi.

Menurut saya, pemerintah perlu melakukan evaluasi ulang terhadap kebijakan quantitative easing yang sudah dilakukan beberapa tahun belakangan ini. Bank Indonesia harus mencari cara bagaimana agar kemudahan peminjaman uang bukan hanya milik mereka yang berada di level menengah dan menengah ke atas, namun juga mereka yang berada di level bawah dan bawah sekali. Mungkin sudah banyak program dari pemerintah untuk mereka, namun hanya untuk sekedar bertahan hidup. Untuk bisa keluar level tersebut kemudian panjat sosial ke level diatasnya, diperlukan tindakan lebih lanjut, yang mungkin bisa dicapai dengan mengubah proporsi sasaran quantitative easing. Sehingga dapat dicapai pertumbuhan ekonomi sesuai yang diinginkan, disertai dengan menurunnya ketimpangan sosial di Indonesia.

My Jihad

0 Comments

It’s already some years from some events that happened in my life. You know, in every place that you have been, they will make distinct impressions. Maybe some years ago I feel about that, but here right now, not so completely different but you know that they have the same root, the same cause.

Sometimes we need to confronting other people, sometimes we need to persuade them, but most in my life I saw men destroys other men. However, I am lucky that I grow up in a family that put conscience as a primary in life.  I face different creatures. I took up new challenges. But still, it’s me with the same attitude.

Like many years ago, like I always said, it is in a struggle that I’m living. There is no so called easy things in a struggle. And if I always got the hardest way, well, maybe that is the way that He arrange for me to serve Him. Not through the smooth and straight path, but by the many surprising possibilities that still fascinating me until now.

This is my jihad, and I hope it is Fisabilillah.

Waste

2 Comments

Welcomed in herds
Worked, whipped like a horse
Feed of leftover
Treated like a waste

In the same time,

Commended like a warrior
High words
Heroic songs
Up to the sky

Proved everything,

Talk is cheap
Do, is hard
As long as we, I, realize
Attitude, of gratitude
Limitless cure

Begin Again

0 Comments

I gave up hope
Was dead inside
Stayed lost within a world I chose to hide
Then I found my faith in him
And now I can
Begin again
I once believed
Our fate was sealed

But now at last, the truth has been revealed
In an instant
Life could change
And now and then begin again
I know that I am meant for something more
That life beyond these walls
Has greater things in store

When I heard his voice, I realized
I’d never be the same
Instantly I knew my life had changed
I dream of peace
Above all else
To share a world where we could be ourselves
We must learn to rise above the past
Before we can at last
Begin again

Sequence VII: Lighthouse

0 Comments

IMG_2346

And where will we be tomorrow
If we do not leave today?

The more we wait for things to change
The more they stay the same
And the more they stay the same
We change

With all the floodgates opened
Walls of water at our heels
Where do we go from here?
Where we will turn to?
With all the shouldered load
With all the limitless possibilities

Like birds of passage flying free
Aimlessly soaring
Between time and space sorrow and joy

Through the night and undergrowth
We set out for the sea
Peering adsorbing consuming
And nothing ever good enough

No river too wide
No ocean too deep
No mountain too high
The myriads of open roads

Wayfarers at the crossroads
There’s always more than this never more than this
Eyes elude the landmarks
And the flame is swallowed now

Every river too wide
Every ocean too deep
Every mountain too high
The myriads of open roads

All of My Angst. Part 2

2 Comments

The human race, generally and normally, has three primary needs to live and survive on this earth, which is food, cloth, and house. Then secondary needs, which could vary depend on the condition. Then tertiary, more specifically depends on the human behaviour themselves. When the situation and condition is stable and get better over time, the needs were also growing. Human must be able to decided which needs that must be fullfilled first.

Start with primary needs, obviously the most cost consuming, housing. Took the constraint here in this country. With the keep high rising property price but slowly evolving small salary that could not keep up with that, whether want it or not, to have a proper (financially feasible with basic facility) and secure (again, financially feasible with basic facility) housing, bank loan must be taken.

Then the secondary, depend on my (present) family, with my grandmother, mother, father, one brother, and three sisters, not counting my (going to be) family. The health care, the education, and the transportation, a motorcycle would not be enough to adequately accommodate all of them (although my family has maximizing the usage of the minimized public transport). Again, bank loan.

The wed, yeah you know, it would also put a big hurricane to the pocket, and it also pull the down payment all those two.

Not mentioning everyday needs until the D-Day.

House, vehicle, wed, all of those big expenditures. All seems impossible without mortgage or loan with my age and position right now. But I don’t want to live under the burden of monthly bills, debts, and payments.

To make those things up, for now I realized that must put aside my secondary and tertiary dreams, the dreams that took most of my time during these days, to reach the primary needs, that I forgot during most of these days.

In the end, Bismillah, the show must go on again. Belt tight, hold tight, sleep tight.

For the Future. Part 2

0 Comments

Last year I took a deciding decision. Before I took that decision, I had very bad days run, I could not think clearly. And I make a plan to escape from that, the plan that looks pretty beautiful at that time. But I made this plan more with emotion than with logical thinking. And after all of the blood, sweat, and tears, those plan failed. All of the backup plans were slips away also. I would not tell how come, not now. Both affected mainly by myself, and from external condition (you know that).

From one side it could be viewed as a very huge blunder. If I stay in my previous occupation, I could save and spend my budget on all of those expenditures on the right time with minimal loan, and could even without any loan (if everything goes in plan also).

But from the other side, it could be viewed as a rescue. If I stay in my previous occupation, I could trapped in a zone, set of skills and knowledge that hardly could be applied elsewhere in the energy industry. The external condition that I mentioned before, predicted that it would last at least until 10 years. Which mean I could not switch to other job swiftly, not like right now. If something bad happened during that 10 years span, it would be the same. And worse, what must I do with my family?

And now, one and half plus years after my big deciding decision. Finally I landed a job on the energy industry again on the opposite sector (before was very upstream, and now is very downstream, relatively). On the job training actually. Starting from all over again, from the bottom, 3 years from my graduation.

Unintentionally, my present job got benefited by the once again mentioned external condition. I have the experiences, starting skills and knowledges. And I hope its only how to adapt faster to catch the objectives right on the time. How I manage my emotion, my ego, and my angst. And if there were more drama going to be happened, I hope I could tackle all of them down. I must take all of those advantages (and disavantages) to step and run through all task, the deadline, all of the barriers and obstacles.

One of my friend said that I was a failed man for 18 months, but I was lucky enough that those months were still on the early stage of my life. All of the mistakes and failures in the past were the provisions for the future. There are still many many months wait ahead, if God wills it. I believe with the more more careful plan and carefully crafted strategy, all of that could be hit and get.

Drop the Six

0 Comments

When I was in highschool, I got accidentally tripped to metal music. Not really joined the scene though, I dug into the culture. I observed that many of its subgenre use astrological and mythological theme. Out one of many theme, I found that number 666 was show up very very frequently. It appear on the legendary Iron Maiden song, “The Number of the Beast”. At that times, I thought it was so cool and yeah, you could say it was pretty rock and roll. 6 is the difference of the month and the day of my birthday. Beside that, there was a reason that I could not write it there. But after all, starting from that time, I use the number 666 as part of my handle in world wide web. ‘top_x_666’ at first, then ‘topx666’ to shorthen it. Especially after I start to learn about computer in my first year in college, many people use pseudonym username, so why not I also use it.

So the time goes by. People had to be grown up. It is not relevant anymore. I think it is the time to drop it from public usage. And I decided to roll back my kandangbuaya and twitter username from now on. Well actually, I could not find any other handle that equally cool, but not as disturbing as it. And for your info, I still love metal music.