Bacalah

Learning is forever

RSS Feed

Going where this year?

Hanya Sebuah Pertanyaan

7 Comments
Posted by Taufiq on December 7, 2010 at 7:43 am

Saya baru saja selesai membaca novel Padang Bulan dan Cinta Dalam Gelas karya Andrea Hirata yang saya pinjam dari Anis Chung. Di novel itu, diceritakan tentang seorang anak perempuan bernama Enong berusia 14 tahun yang baru saja kehilangan ayahnya yang meninggal dunia. Dia punya 3 orang adik yang harus diberi makan dan terus sekolah. Maka dia memutuskan untuk keluar dari sekolah dan menjadi penambang timah di pulau Belitung untuk menyambung hidup keluarganya dan pendidikan adik-adiknya.

Ada lagi kisah lainnya, tapi ini kisah nyata, bukan dari novel. Saya mempunyai tetangga, sebut saja namanya Anto. Dia seumuran dengan saya. Dia anak yang pintar, namun keluarganya kurang mampu, kalau tidak bisa dibilang “kere”. Dulu waktu kami sama-sama lulus SMP dan mencari sekolah yang diidamkan, ia ingin masuk ke SMK Negeri Jetis Yogyakarta. Dia bercita-cita untuk memajukan kehidupan keluarganya. Dan saya masuk ke SMA Negeri 5 Yogyakarta. Walaupun nilai NEMnya tinggi, namun karena keluarganya tidak punya uang untuk membayar uang sumbangan siswa baru, maka dia pun memilih untuk masuk ke SMK swasta yang tidak jelas arah pendidikannya, siswanya juga tidak jelas, namun tidak memakai sumbangan. Ketika kami kelas 2, yayasan yang menyokong SMK nya bubar. Maka sekolahnya pun ikut bubar. Dan nasib pendidikannya semakin gelap. Untuk pindah ke sekolah lain, juga dibutuhkan “sumbangan pindahan” yang tidak sedikit.

Akhirnya dia memutuskan untuk bekerja disebuah usaha sablon di kampung kami. Dan dia tidak sekolah lagi. Tapi dia bangga, karena dapat membiayai sekolah 3 orang adiknya dan sedikit membantu kebutuhan sehari-hari keluarganya.

Nah, pertanyaan saya, dimana orang-orang seperti Tanoto, Eka Cipta, Djarum, Sampoerna, Salemba, dan konglomerat-konglomerat lain untuk anak-anak seperti Enong dan Anto. Kenapa mereka memilih untuk memberikan biaya untuk mahasiswa, yang bila dilogika mereka mempunyai biaya untuk sekolah SD, SMP, sampai SMA.

Banyak orang-orang yang saya kenal, mereka mahasiswa, mempunyai motor, laptop, handphone, rutin jalan-jalan dan piknik, sering belanja barang-barang yang bisa dibilang tersier, dan mampu makan 3 kali sehari, namun mendapatkan apa yang disebut beasiswa.

Saya sendiri tidak pernah mendapatkan beasiswa karena memang Indeks Prestasi saya tidak mencukupi, dan saya tidak menyerang orang-orang yang mendapatkan beasiswa ini. Tapi saya bertanya kepada para konglomerat dan juragan yang memberikan beasiswa untuk mereka. Adakah anda-anda semua untuk anak bangsa yang pintar, cerdas, dan kreatif, namun tidak mampu membayar uang sekolah SD, SMP, SMA dan membanting tulang untuk membiayai hidup keluarganya?

You can leave a comment, or trackback from your own site.

7 Comments

  • On December 7, 2010 at 8:12 am deptz said

    sedikit analisa kenapa begitu:

    1. Mahasiswa bisa menjadi alat promosi yang bagus. Universitas(apalagi universitas besar) juga bisa mempromosikannya dan menjadi ajang/alat promosi perusahaan.

    2. Mahasiswa bisa mereka gunakan untuk mendapatkan tenaga kerja yang murah dan mudah. 😀

    3. Menaikkan gengsi/prestise.. 🙂

    sebagai catatan: mencari beasiswa D3 jauh lebih susah daripada mencari beasiswa S1.

    hanya opini pribadi..:)

    Reply

  • On December 7, 2010 at 8:32 am chipz said

    err..apakah orang-orang yang tidak mampu itu juga harus “mendaftar” untuk bisa dapet beasiswa..?

    mungkin ada baiknya kamu mempublish mereka seperti ini pik, sapa tau ada juragan laen yang tertarik untuk memberi beasiswa pada orang-orang kurang mampu yang belum kuliah..

    emm..nice post though!

    Reply

  • On December 7, 2010 at 9:42 am topx666 said

    @mas dept :
    nah itu dia mas, jangan2 alasan mereka ngasih beasiswa ke mahasiswa tapi gak memperdulikan anak2 yang masih sekloah mungkin itu tadi

    @chipz :
    jangankan mendaftar,mereka aja gak tau beasiswa itu panganan opo,lha wong anak kampung,lulus SMA aja pada belum. ya ini usaha saya. semoga teman2 yg sudah dapat beasiswa dan punya link ke administrasi pemberi beasiswa mau ikut memikirkan hal ini

    Reply

  • On December 8, 2010 at 3:29 am tege said

    pertama saya bersyukur masih bisa sekolah sampai sekarang

    kedua saya turut prihatin dengan keadaan ini

    kalo boleh berpendapat, saya sebagai insyaAllah salah satu penerima beasiswa dari yang salah satu yg mas topx sebutkan, menurut saya mereka sudah berusaha membantu mengentaskan kebodohan dengan mencerdaskan kehidupan bangsa (terlepasa dari motif apa mereka memilih memberikan beasiswa kepada para mahasiswa), yg seharusnya sebagai pemeran utama adalah pemerintah. nah untuk mendapatkan beasiswa itu pun harus mengikuti kualifikasi kusus dan beberapa kali test dan (memang ada juga sih beasiswa yg seleksinya kurang begitu ketat), kalo boleh ditilik seharusnya sekolah SD dan SMP sudah ada dana BOS, nah untuk SMA juga biasanya ada.

    semoga kita tidak hanya bisa menggantungkan pada iba orang lain, dan berusaha sekuat tenaga untuk mencapai impian kita seperti kisah “enong” tersebut.

    nah untuk kisah teman mas topx mungkin dia, seharusnya diberi informasi yang cukup mengenai kemungkinan sekolah, beasiswa, partime dll agar sekolah dan bekerja bisa berjalan…

    tulisan mas topx ini semoga mengisprasi orang lain.

    Reply

  • On December 8, 2010 at 7:07 am topx666 said

    @mas tege :
    tulisan ini saya buat karena selama 20tahun hidup saya, saya banyak melihat anak2 yg berguguran dari sekolahnya karena biaya,dan ketika saya masuk kuliah,banyak orang2 bisa gampang sekali mendapatkan beasiswa dengan, maaf, surat keterangan tidak mampu, padahal mereka mampu. dan orang2 ini ketika sudah mendapatkan beasiswa, mereka menggunakannya bukan untuk tujuan pendidikan. tentu saja orang2 ini bukan termasuk mas tege.

    tentang teman saya, dia lulus ujian paket C. untuk beasiswa, ketika itu kami sama sekali tidak tahu beasiswa itu makanan apa. mungkin mas tege tahu ada program pendidikan apa untuk lulusan paket C?

    Reply

  • On December 9, 2010 at 12:07 pm tege said

    menurut saya para temen2 yg putus sekolah, atau karena alasan tertentu putus sekolah mereka perlu sering mendapat masukan dan semangat dari kita, bisa berupa apa yg seharusnya dilakukan, prospek prospek kerja atau melanjutka sekolah yg memungkinkan, karena orang orang ini biasanya gag tau harus berbuat apa, mereka bingung, mentok bahkan terkadang bisa nekat melakukan hal2 yg gag jelas…
    lakukan apa yg bisa lakukan, sekedar menumbuhkan semngat untuk merka untuk tetap berani bermimpi, dan berusaha sekuat mungkin adalah lebih baik.
    bukan berarti lulusan sekolah bukan formal itu jelek tergantung orang tersebut mau berusaha dan bermimpi atau tidak…
    CMIIW

    Reply

  • On December 9, 2010 at 4:55 pm Prima said

    nice thought pik,,,,senada dengan pandangan saya terhadap ‘pemandangan’ yang mengganjal disini

    karena menurut saya sih, pemberi beasiswa juga mengharap feedback,,,,kalau masalah kenapa SMA/SMK jadi fase kritis,,,ya harusnya pendidikan dasar itu 12 tahun….

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *