Bacalah

Learning is forever

RSS Feed

Going where this year?

Monthly Archives: March 2019

Sawit Indonesia

0 Comments

Budidaya kelapa sawit adalah salah satu penggerak ekonomi utama di Indonesia. Lebih dari 15 juta rakyat Indonesia menggantungkan mata pencahariaannya pada industri minyak sawit, baik sebagai petani dengan lahan kecil, maupun sebagai pekerja pada perusahaan sawit besar. Indonesia mulai menjadi produsen minyak sawit terbesar di dunia sejak tahun 2006, mengungguli Malaysia. Indonesia memproduksi 35 juta ton minyak sawit per tahun, lebih dari 50% seluruh suplai minyak sawit dunia. Ekspor sawit menghasilkan 6 milyar Dollar Amerika, 11% dari keseluruhan neraca ekspor Indonesia. Karena menanam sawit, anak bisa sekolah, bisa membangun rumah, naik haji, dan lain-lain. Ustad Abdul Somad pernah berkata, dulu beliau mendapatkan warisan 2 hektar kebun sawit dari kakeknya sebagai bekal untuk kegiatan dakwahnya di Riau.

Namun kejayaan sawit Indonesia harus dibayar dengan harga yang sangat mahal. Demi menyaingi posisi Malaysia sebagai produsen minyak sawit terbesar, jutaan hektar hutan hujan tropis dan rawa-rawa di Sumatra dan Kalimantan ditebang dan dibakar untuk menciptakan lahan baru bagi penanaman pohon sawit. Dampak dari penebangan dan pembakaran hutan tersebut sangat mengerikan. Sejak 1991, setiap tahunnya kabut asap mengepung kehidupan masyarakat di Sumatra dan Kalimantan, dan sampai ke Singapura dan Thailand. Di tahun 2015, kabut asap dari Sumatra dan Kalimantan bahkan juga mencapai Brunei, Vietnam, Kamboja, dan Filipina. Kabut asap ini mengakibatkan sakit infeksi saluran pernafasan yang sangat akut (ISPA). Saya sendiri pernah merasakan kabut asap waktu bekerja di Riau, dan memang sangat tidak nyaman sekali hidup dengan kabut asap di sekitar kita. Beberapa kali terjadi bayi dan balita yang meninggal di Sumatra dan Kalimantan karena kena ISPA yang disebabkan kabut asap, kebetulan salah satu korbannya adalah anak dari senior saya di perusahaan.

Belum lama beredar foto orangutan di Aceh yang luka parah karena ditembak dengan senapan angin, kemudian dipukuli sampai babak belur, kemudian ditusuk berkali-kali oleh petani sawit yang lahannya didatangi oleh si orangutan untuk mencari makan, karena hutan yang seharusnya menjadi habitatnya telah musnah dan berganti menjadi lahan sawit. Orangutan tadi berhasil bertahan hidup setelah diselamatkan dari kemarahan para petani. Setelah di rontgen, di dalam tubuh orangutan tadi ada 74 butir peluru timah yang bersarang. Si orangutan mempunyai bayi, yang sayangnya tidak lolos dari kemarahan petani sawit, dan akhirnya mati. Kejadian pembantaian keluarga orangutan ini baru yang viral dan kita ketahui, belum yang selama ini lolos dari pemberitaan media. Belum lagi hewan-hewan liar penghuni hutan yang lain. Dan belum lagi tumbuhan-tumbuhan langka yang terancam punah.

Karena dampak-dampak negatif dari budidaya sawit yang diterapkan di negara kita, Uni Eropa melakukan embargo terhadap minyak sawit produksi Indonesia mulai dari tahun ini. Mereka hanya mau memakai minyak nabati yang diproduksi secara ramah lingkungan dan berkelanjutan, yang tetap memperhatikan kelestarian alam dan kesejahteraan hewan-hewan liar, termasuk orangutan yang menjadi musuh besar para petani sawit Indonesia. Akibatnya, harga minyak sawit Indonesia jatuh. Ini sangat menyakitkan bagi petani sawit kecil, yang terkena akibat paling parah dari embargo ini. Apalagi petani kecil yang sudah sering dicurangi pengepul dan tengkulak, dihantam lagi dengan turunnya harga sawit, makin kecil lagi margin keuntungan mereka. Kalau kita melihat dari kacamata Pak Petani, mungkin wajar bagi Pak Petani untuk melampiaskan kemarahannya atas hidup yang tidak adil ini kepada si orangutan yang malang yang hanya berusaha mencari makan untuk anaknya.

Menjadi dilema bagi kita semua, menyikapi budidaya sawit di negeri kita. Terakhir komentar dari Bapak Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Indonesia yang membela petani sawit, “Petani sawit pahlawan bangsa”, kemudian “Kalian mikirin orang utan saja”. Tentu saja sindiran dari Pak Menko tersebut tidak akan mengubah kebijakan pemerintah negara-negara Eropa. Beberapa netizen berteori, bahwa embargo Uni Eropa tersebut hanya merupakan strategi perang dagang, karena minyak nabati produksi dalam negeri mereka seperti minyak canola dan minyak biji bunga matahari tidak bisa bersaing secara harga dari minyak sawit.

Sebenarnya, ada tidak cara supaya budidaya sawit tidak merusak dan bisa berkelanjutan? Saya bukan ahli pertanian dan perkebunan, tapi kita bisa melihat negara tetangga yang dulu kita singkirkan dari tahta raja sawit, Malaysia. Alih-alih berusaha merebut kembali posisi produsen minyak sawit terbanyak, saat ini Malaysia fokus meningkatkan kualitas minyak sawit yang diproduksinya. Kalau Indonesia menguasai 50% seluruh suplai minyak sawit dunia, maka Malaysia menguasai 50% suplai minyak sawit yang tersertifikasi diproduksi dari kebun yang ramah lingkungan. Sejak tahun 2010, pemerintah Malaysia telah berkomitmen untuk menjaga minimal 50% wilayahnya tetap sebagai hutan hujan tropis (dan bukan sebagai hutan produksi). Pemerintah Malaysia mendorong peningkatan produksi sawit bukan dengan cara membuka lahan baru, tetapi dengan cara mengoptimalkan lahan sawit yang sudah ada. Memang, budidaya sawit di Malaysia pun tidak sempurna dan tidak luput dari metode-metode ilegal, tapi paling tidak beberapa metodenya yang legal bisa dicontoh.

Budidaya tanaman monokultur yang sifatnya tahunan untuk komoditi ekspor memang rentan sekali. Tidak hanya sawit, tetapi juga karet yang beberapa dekade terakhir harganya tidak naik-naik, padahal bukan karena embargo tapi karena pasarnya direbut oleh karet sintetis dan karet daur ulang. Perlu ada diversifikasi pertanian, supaya seluruh lahan tidak ditanami sawit semua, atau ditanami karet semua. Beberapa hari yang lalu Presiden bilang, petani sawit bisa beralih ke tanaman pangan lain, seperti durian atau jengkol misalnya. Tapi juga jangan semuanya menanam durian. Sehingga ketika harga turun, mau karena embargo, karena kondisi pasar atau perkembangan teknologi, petani tetap bisa bertahan dan beralih ke tanaman lain lagi. Public figure seperti Ustad Abdul Somad juga bisa mencontohkan kepada masyarakat Riau, untuk mencoba mengganti beberapa pohon sawitnya dengan menanam kurma, saya yakin beliau sudah melihat betapa indahnya kebun-kebun kurma di Mesir ketika beliau kuliah dulu.

Kembali ke sawit, di Indonesia sebenarnya sawit sangat potensial sebagai batu loncatan untuk menuju kemandirian energi. Yaitu dengan mengolah sawit menjadi biofuel, biodiesel atau biobensin. Minyak sawit Indonesia yang diekspor ke negara-negara Eropa pun diolah menjadi biofuel. Di debat calon presiden Februari lalu, kedua capres menyadari potensi biofuel. Walaupun sayangnya kedua capres juga tetap berencana untuk memperluas lahan. Sawit, karena bisa ditanam lagi, bisa termasuk ke dalam sumber energi terbarukan. Beberapa waktu yang lalu biodiesel pernah muncul di beberapa SPBU, namun entah kenapa tidak lama kemudian menghilang. Di beberapa PLTD di luar Jawa, biodiesel sawit juga sempat dipakai. Memang perlu riset lebih lanjut untuk membuat minyak sawit supaya lebih sesuai sebagai bahan bakar mesin. Dan perlu diketahui, meskipun terbarukan, sawit adalah sumber energi yang susah kalau dibilang berkelanjutan, karena untuk menggerakkan mesin atau kendaraan, masih melibatkan proses pembakaran, yang nantinya akan menghasilkan asap dan gas buang yang tetap membuat polusi. Maka dari itu saya bilang sawit sebagai batu loncatan, bukan tujuan akhir kemandirian energi Indonesia.

Well, sawit, dan tanaman apapun di muka bumi ini, pasti ada gunanya untuk umat manusia. Tapi supaya menguntungkan semua pihak, dan tidak merugikan siapapun, baik orang manusia atau orangutan, penanaman dan pemanfaatannya harus bertanggung jawab. Dalam hal ini, pemerintah harus menghentikan perluasan lahan sawit di hutan, dan harus lebih aktif lagi melakukan pengawasan terhadap perkebunan sawit baik kebun skala kecil dan terutama kebun perusahaan-perusahaan besar. Pembimbingan kepada petani supaya bisa meningkatkan mutu dan jumlah produksi dari lahan yang sudah ada juga harus lebih digalakkan. Kemudian petani kecil bisa difasilitasi untuk mendapatkan sertifikat kebun sawit ramah lingkungan. Petani sawit juga harus sadar, bahwa lingkungan harus dijaga, apa salahnya memberikan sedekah satu tandan dua tandan sawit kepada keluarga orangutan yang lapar. Kalau penebangan dan pembakaran hutan berhenti, maka orangutan tidak akan bingung kemana dia harus lari untuk mencari makan. Apa mau, negara kita dikenal sebagai negara pembunuh orangutan?

Mar 20, 2019