Bacalah

Learning is forever

RSS Feed

Going where this year?

Monthly Archives: February 2018

Salah Sasaran Pinjaman Lunak

1 Comment

Sejak pertama kali buka rekening bank setelah lulus kuliah, sering sekali saya dapat telpon dari penawaran dari bank yang macam-macam. Mulai dari tabungan berjangka, asuransi, kartu kredit, sampai pinjaman tanpa agunan. Yang terakhir ini belakangan bisa dibilang sangat sering sekali, dan cuma bukan dari satu bank. Berhubung planning saya belum matang sekali untuk buka usaha, ya akhirnya setiap penawaran pinjaman itu saya tolak. Dan walaupun saya sudah bilang belum mau ambil, tetap saja beberapa hari berikutnya dari bank yang sama ada lagi telemarketing yang telpon. Dan berbagai macam bujuk rayu yang disampaikan oleh mbak telemarketer, mulai dari siapa tahu mau beli atau bangun rumah, siapa tahu saudara atau keluarga ada yang butuh, siapa tahu untuk biaya nikah, siapa tahu nanti untuk dana pertama kredit kendaraan, dan lain-lain. Nominal yang ditawarkan pun pelan-pelan dinaikkan begitu saya bilang belum mau, pun bunganya dipilihkan di opsi yang paling rendah.

Terlepas dari dasar hukum agama tentang pinjam meminjam uang dengan bunga, maupun etika telemarketing dalam menghubungi nasabah, menurut saya kebijakan monetary quantitative easing di Indonesia masih sangat kurang tepat sasaran. Adalah benar tujuan dari pemerintah melalui Bank Indonesia untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dengan cara memudahkan peminjaman uang bagi masyarakat. Namun proporsi ‘random middle class citizen’ sebagai sasaran quantitative easing tersebut terlalu besar. Sehingga semua bank pun melakukan metode telemarketing untuk menyalurkan dana segar yang mereka punya. Dan bank pun secara random juga hanya cari gampang menyasar nasabah dengan pemasukan bulanan rutin diatas jumlah tertentu untuk menghindari kredit macet. Bank-bank yang ada di Indonesia berlomba-lomba untuk menarik nasabah kredit dari segmen tersebut sebanyak-banyaknya. Dan telemarketer sebagai front line diberikan target tertentu mungkin dengan bonus tertentu pula apabila target tercapai. Karena memang sudah bekerja, ‘random middle class citizen’ tersebut hanya membelanjakan uang hasil pinjaman tersebut untuk kegiatan konsumtif, bukannya untuk kegiatan produktif memulai usaha seperti yang dibilang sama mbak telemarketer.

Namun ditakutkan akan terjadi konsumerisme gila-gilaan, yang hanya menguntungkan perusahaan-perusahaan besar dan raksasa, dan yang lebih mengerikan lagi, ini hanya akan meningkatkan inflasi ke tingkat yang tidak terkendali di semua bidang. Padahal semua provinsi di Indonesia masih banyak masyarakat yang masih kesusahan untuk mendapatkan modal untuk memulai usaha. Belum lagi pedagang kecil, sangat kecil, dan sangat kecil (baca: simbah-simbah yang berjualan makanan, kerajinan, yang berjualan hanya untuk bertahan hidup) sekali yang belakangan ini akhirnya terekspos di masyarakat luas karena sosial media. Sayang sekali sebagian besar dari segmen usaha ini juga tidak memenuhi persyaratan untuk menerima Kredit Usaha Rakyat yang sudah dijalankan pemerintah. Sehingga akhirnya rakyat Indonesia yang berada di level ‘low and very low income class’ ini banyak yang jatuh ke tangan rentenir dan lintah darat, yang menawarkan kemudahan peminjaman uang secara instan, namun dengan bunga yang sangat tidak manusiawi.

Menurut saya, pemerintah perlu melakukan evaluasi ulang terhadap kebijakan quantitative easing yang sudah dilakukan beberapa tahun belakangan ini. Bank Indonesia harus mencari cara bagaimana agar kemudahan peminjaman uang bukan hanya milik mereka yang berada di level menengah dan menengah ke atas, namun juga mereka yang berada di level bawah dan bawah sekali. Mungkin sudah banyak program dari pemerintah untuk mereka, namun hanya untuk sekedar bertahan hidup. Untuk bisa keluar level tersebut kemudian panjat sosial ke level diatasnya, diperlukan tindakan lebih lanjut, yang mungkin bisa dicapai dengan mengubah proporsi sasaran quantitative easing. Sehingga dapat dicapai pertumbuhan ekonomi sesuai yang diinginkan, disertai dengan menurunnya ketimpangan sosial di Indonesia.

Feb 25, 2018